Mengenali Kelainan Ortopedi pada Anak Bagian 2

Namun, menurut Faisal, sejalan dengan peningkatan jumlah kelahiran, kemungkinan anak mengalami kelainan ortopedi dapat meningkat. “Dari sekitar 30–40 pasien anak yang ditangani, sekitar 60–70 persen di antaranya mengalami variasi kelainan yang normal dan hanya 10–20 persen yang memerlukan terapi atau tindakan koreksi,” kata dia. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh sejumlah ahli ortopedi anak di Boston’s Children Hospital, Amerika Serikat, menunjukkan sekitar 75 persen anak berusia 3–5 tahun mengalami kelainan genu valgum atau letter X.

Sementara itu, sekitar 99 persen kasus genu valgum ini terkoreksi dengan sendirinya pada anak berusia 7–8 tahun. Penelitian lainnya menunjukkan kejadian genu varum atau kaki O lebih tinggi dialami oleh pemain sepak bola dan lebih umum dialami oleh kelompok umur 16–18 tahun. Ketua tim peneliti Kamran Asadi dari Department of Orthopedic, Poorsina Hospital, Guilan University of Medical Sciences, mengungkapkan stres pada lutut dan sendi menyebabkan genuvarum semakin berat. “Secara statistik ditemukan relevansi signifikan antara tingkat praktik dan prevalensi genu varum,” kata dia.

Penelitian ini melibatkan 750 pemain sepak bola dan 750 atlet selain sepak bola. Pengukuran meliputi usia, tinggi badan, berat badan, tahun mulai berlatih rutin, rata-rata berlatih per minggu, trauma sebelumnya, riwayat fraktur, dan jarak garis sambungan antar-lutut. “Baik pemain sepak bola maupun non-sepak bola memiliki genu varum, tetapi insidennya lebih tinggi pada pemain sepak bola,” kata dia. Menurut Faisal, penanganan kelainan ortopedi pada anak memerlukan kecermatan, bahkan sejak janin di dalam kandungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *