Mimpi Ke Damaskus Yang Terputus

DARI berbagai penjuru Suriah mereka datang ke Aleppo. Yahia usianya 22 tahun tatkala kami berjumpa di salah satu sudut kawasan Bustan al-Basha, Aleppo, awal November empat tahun silam. Hari itu, di tengah angin musim dingin, para pemberontak Suriah tengah memperkuat garis depan pertahanan menjelang berakhirnya gencatan senjata memperingati Idul Adha. Saya mengingat Yahia karena ruapan wangi parfumnya menusuk hidung dan rambutnya lengket oleh gel, tampilan yang tak lazim untuk seorang pejuang.

Jaket beludru hitam membungkus tubuh cekingnya yang dibalut seragam loreng—entah dari mana dia mendapatkannya. Kendati begitu, sudah 14 bulan dia sibuk menarik pelatuk Kalashnikov—termasuk sepuluh bulan di Kota Homs, sekitar 120 kilometer dari Aleppo. Sebelum mengangkat senjata melawan tentara Presiden Bashar al-Assad, Yahia mahasiswa jurusan pertanian University of Aleppo. ”Saya berperang untuk menggulingkan Assad.

Dia menzalimi rakyat,” katanya dalam bahasa Inggris yang cukup fasih. ”Kami pasti menang. Allah bersama orang benar,” dia melanjutkan dengan penuh keyakinan. Bukan hanya Yahia, sejumlah mahasiswa meninggalkan kampus untuk bergabung dalam apa yang mereka sebut sebagai revolusi. Abdul Qader Haj Othman dan Moaatze Soltan juga mahasiswa University of Aleppo. Keduanya berasal dari Kota Azaz, sekitar 75 kilometer di utara Aleppo, dan bergabung dengan khatiba—grup pemberontak—Aaseft al-Shamal alias Brigade Badai Utara.

Moaatze menjadi sniper. ”Saya sedih harus membunuh. Bagaimanapun, mereka saudara saya juga. Tapi, kalau saya tak membunuh, saya yang terbunuh,” katanya. Abdul Qader tak membawa Kalashnikov, tapi handycam. ”Dulu saya ikut bertempur. Mungkin saya sudah membunuh belasan tentara Assad,” katanya, setelah kami membersihkan kamarnya yang sore itu berserakan terkena mortir. Sempat terluka, dia kemudian diminta mendokumentasikan pertempuran yang dijalani Brigade Badai Utara, lalu mengunggahnya di Internet. ”Dunia perlu tahu apa yang terjadi di Suriah.” Para pemberontak datang dari berbagai kalangan. Ahmad Keeko, misalnya, bekas guru sekolah menengah atas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *