Category Archives: Uncategorized

Pesta Bunyi Acak Music Box dan Lain-lain

Pesta Bunyi Acak Music Box dan Lain-lain

GALERI ROH Projects bising. Petikan gitar elektrik, bunyi ritmis simbal, dan dentingan kotak musik terdengar bersahut-sahutan dari pintu masuk galeri yang berlokasi di lantai 40 Menara Equity, Jakarta Selatan, itu. Kecuali saat pesta pembukaan pameran, keriuhan ini jarang terjadi dalam sebuah galeri seni. Tetapi, dalam pameran tunggal Bagus Pandega, keriuhan ini akan terus berlangsung hingga pameran usai pada 20 Juni mendatang. Bagus Pandega, sejak tujuh tahun yang lalu, mengembangkan karya dari medium suara dan gerak. Dimulai dari Singer, karya trimatra yang dibuat dengan menggabungkan mesin jahit, gramofon, dan pemutar piringan hitam, Bagus menciptakan mesin jahit yang bisa ”bernyanyi” tiap kali digerakkan.

Dari sana, ketertarikannya memadukan gerak dan suara dalam karya seni terus berkembang. Dalam pameran berjudul ”Random Black” ini, kreativitas Bagus naik satu tingkat dengan menciptakan karya-karya seni yang memadukan unsur cahaya, suara, dan gerak dalam waktu yang sama. Riuh bebunyian, kerlap-kerlip lampu LED, dan gerakan kinetik dari obyek-obyek yang tidak disekat dalam ruang pameran itu menyambut para pengunjung pameran, Selasa pekan lalu. Dalam karya Delay Relay, misalnya, Bagus menyusun simbal dan pemukulnya bertingkat-tingkat menyerupai pohon yang berkembang. Disangga dengan stainless steel, pemukul itu secara otomatis memukul simbal-simbal dengan tempo acak. Pemukul dan simbal ini digerakkan dengan sistem elektronik analog dan kabelkabel yang terhubung ke stop kontak terdekat.

Kadang simbal-simbal yang dipoles hitam hingga menyerupai piringan hitam itu berbunyi bergantian. Di lain waktu, beberapa simbal berbunyi pada saat yang sama. Sesekali mereka diam, dan pengunjung yang menyaksikan akan bertanya-tanya simbal mana yang akan berbunyi. ”Konsep pameran ini adalah uncertainty, ketidakpastian kehidupan. Apa pun yang terjadi di depan kita, kita tidak pernah tahu pasti,” kata Bagus, Selasa pekan lalu. Dalam membuat karya ini, dia mengingat kembali pengalaman kehilangan orang-orang yang dekat dengannya: rekan kerja dan kenalan yang lebih dulu berpulang. Seperti karya berjudul Bygone, yang menampilkan drum berisi lampu neon bertulisan judul karya ini.

Wolff di Jagat Seni Lukis

Wolff di Jagat Seni Lukis

S ERING dilupakan bahwa Wolff Schoemaker selain arsitek adalah pelukis kenamaan. Lexicon of Foreign Artist Who Visualized Indonesia 1600-1950 susunan Leo Haks dan Guus Maris Leo menambahkan bahwa ia juga pematung. Itu sebabnya, ketika pada 1986 kolektor Scherpel datang ke Indonesia dan memamerkan puluhan seni rupa Hindia Belanda, lukisan Wolff dicari-cari. Kolektor kawakan yang mengerti sejarah seni memang akan memburu karya Wolff. Dan perburuan itu semakin seru lantaran lukisan Wolff ternyata langka. Menurut kritikus Kusnadi, narasumber Claire Holt kala menyusun buku Art in Indonesia: Continuities ad Change, kelangkaan tersebut terjadi karena Wolff lebih memilih profesi arsitek dan dosen ketimbang melukis.

Maka Wolff bisa dibilang zondag kunstenaar (pelukis hari Minggu). Namun, meski ”pelukis hari Minggu”, Wolff tetap diagul-agulkan! Menurut Basoeki Abdullah, Wolff sangat bersimpati kepada para pelukis Indonesia, yang sering didiskriminasi berbagai kunstkring (perkumpulan seni Belanda). Semangat anti-diskriminasi itu semakin menyala ketika Wolff mengenal dekat para pemikir kebangsaan di Bandung dan Batavia kala itu, seperti R.M.P. Sosrokartono, Mr Soenario, Otto Iskandardinata, dan Sutan Takdir Alisjahbana. Juga tentu dengan Sukarno, muridnya di perguruan teknik. Patut diingat juga, Wolff adalah ”provokator” para perupa Hindia Belanda untuk membuat poster-poster anti-penjajahan Jepang. Maka lahir poster heroik metaforik dari tangan Nico Broekman, Auke Sonnega, Pat Keely, dan sebagainya.

Basoeki pernah bercerita, ketika Wolff melihatnya melukis model di kios pasar malam kecil Bandung pada 1933, Wolff mengajaknya untuk ikut pameran Jaarbeurs XIV (Pasar Malam Besar ke-14) di Bandung, mendampingi para pelukis Hindia Belanda pilihan. Wolff (dan Sosrokartono) kemudian mengusahakan Basoeki untuk sekolah seni ke Belanda. Menurut cerita pelukis istana Presiden Sukarno, Lim Wasim, pada 1940-an Wolff sering makan di Restoran Hoa Sang, Bandung. Restoran bermenu Eropa itu milik ayah Wasim, yang bernama Lim Tjie. Wolff tahu bahwa putra pemilik restoran adalah Wasim, pelukis remaja. Setelah Indonesia merdeka pada 1945, banyak orang Belanda pulang ke negerinya. Restoran itu mulai sepi, dan Wolff merasa prihatin. Berkatalah Wolff kepada Lim Tjie: ”Saya tak ingin tibatiba ada tulisan ’Dit huis staat te koop’ (Rumah ini akan dijual) di dinding restoran, gara-gara bangkrut.” Lim Tjie merasa kalimat itu bentuk perhatian Wolff kepada nasib Wasim sebagai calon pelukis. Omar Basalmah, pelukis Bandung yang kemudian tinggal di Bogor, Jawa Barat, punya catatan unik mengenai Wolff.

Pada 1948, Wolff merintis pendirian perkumpulan Tjipta Panjaran Rasa, yang beranggotakan Angkama, Abedy, Huang Wei Shing (Anton Kustiawijaya), sampai Basalmah sendiri. ”Agar pelukis Bandung berani jalan ke mana-mana,” kata Wolff. Namun perkumpulan ini tetap saja ”kurang nyali”, sehingga baru pada 1950 dinyatakan resmi berdiri oleh Angkama, setahun setelah Wolff wafat. Semangat ini diadopsi oleh Barli, yang mendirikan Jiva Mukti. ”Sanggar Jiva Mukti berisi spirit pelukis Wolff,” kata Barli. Presiden Sukarno memasukkan lukisan Dua Gadis Sedang Mandi karya Wolff ke buku koleksinya. Lukisan itu menggambarkan dua perempuan Sunda telanjang sedang menikmati pancuran air sungai. Segala aspek lukisan ini sempurna, walaupun wajah gadis Sunda itu terkesan seperti noni Belanda.

Baca Juga : kota-bunga.net

Menurut Arie Smit, yang pernah mengajar di Institut Teknologi Bandung, Wolff melukis juga karena dorongan Jan Frank, Velthuysen, dan Piet Ouborg, rekan-rekannya di Bataviasche Kunstkring. Atas lukisan Dua Gadis Sedang Mandi, Wolff dirangsang oleh lukisan Paul Gauguin, Annah: la Javanaise. Pada 2011-2013, saya diminta Sekretariat Negara menominalisasi koleksi benda seni Istana Presiden yang berjumlah 16 ribu. Lukisan Wolff di atas, yang terbuat dari cat minyak di atas karton 70 x 50 sentimeter, tergantung anggun di ruang khusus nude dan terhargai sekitar Rp 300 juta.